Kamis, 10 Oktober 2013

Haruskah A atau B saja?



Bu, pokoknya nilai saya harus B ya bu, saya ga mau dapet C”, tutur seorang mahasiswi (sebut saja X), yang kala itu, saya baru saja melangkah keluar dari ruangan ujian setelah mengawas ujian akhir semester, mata kuliah Psikologi Abnormal dan Psikopatologi. Sontak saja saya kaget, sambil berpikir dalam hati : mahasiswi seperti apa ini yang berani mengatur dosennya dalam hal nilai? Alih-alih marah, saya bertanya kepadanya : “Mengapa kamu berkata demikian?” Ia menjawab (masih dengan nada bicara yang manja) : “Iya bu, UTS kemarin nilai saya jelek. Kalau UAS saya jelek, saya pasti dapat nilai jelek juga. Pokoknya jangan C ya bu, B aja gapapa deh”. Dengan tertawa saya berkata : “Bagian mu adalah belajar. Masalah nilai itu urusan saya”, kemudian saya berjalan menuju ruangan saya. Kening saya berkerut mendapati mahasiswi seperti itu.
Lain lagi kisah Y, juga seorang mahasiswi, yang pada mata kuliah itu sangat berharap mendapat nilai A. Namun pada kenyataannya, ia hanya mendapat nilai B+. Ketika mengetahui nilainya, ia protes dan mengirim pesan singkat kepada saya. Ia berkata : “Ibu, kenapa saya dapat nilai B+? Saya sudah berusaha keras agar saya dapat A, tp knp begini jadinya? Saya tidak bisa tidur 3 malam, saya mengalami gangguan jenis ini memikirkan hal itu. Tolong saya bu, saya mau ngelakuin apa aja asal nilai saya A”. Kening saya kembali berkerut, namun saya tahu saya tidak perlu segera merespon pesan singkatnya, supaya saya & mahasiswi tersebut dapat berpikir jernih menyikapi hal tersebut. Keesokan malamnya, saya kirim pesan singkat kepadanya : “Temui saya besok setelah saya selesai mengajar”. Ketika bertemu dengannya, saya penasaran hal apa yang mendasarinya berani bertindak demikian. Ia bertutur bahwa sejak kecil ia selalu dibandingkan dengan saudari kandungnya. Ada beberapa kegagalan yang pernah ia alami, dan hal tersebut yang mendasari mengapa ia cenderung ambisius dalam meraih sesuatu, khususnya meraih nilai sempurna di kampus. Akhirnya percakapan yang terjadi meluas ke beberapa hal. Di penghujung percakapan ia berkata :”Bu, saya masih berharap nilai saya berubah menjadi A, tapi saya tahu, sepertinya ibu ga akan mengabulkannya”. Dengan tersenyum kecil, saya menjawab : “Itu tidak akan pernah saya lakukan. Saya tidak bisa mengabulkan keinginanmu. Penilaian saya bukan hanya ujian semata. Saya juga mengamati keaktifan & sikap semua mahasiswa saya di kelas”.
Cerita Z berbeda lagi. Ia seorang mahasiswa yang meminta umpan balik, ketika saya memberi tugas makalah kepadanya. Kala itu, ia segera memperbaiki makalahnya dan memberikan kembali kepada saya. Ketika melihat makalah tersebut, saya berpikir bahwa makalahnya masih perlu banyak perbaikan. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya, membuat saya terpana. “Tapi bu, kalau saya sudah perbaiki, nilai saya pasti A kan ya?” Haaaah? Ga salah dengarkah saya? Respon saya sama seperti kasus X di atas :”Tugasmu adalah mengerjakan tugas semaksimal mungkin. Masalah penilaian adalah tugas saya”.
Tiga kasus yang membuat saya terheran-heran dengan ulah mahasiswa tersebut. Mengapa harus A? Mengapa harus B? Benarkah nilai itu sedemikian lebih penting daripada proses belajar yang mereka alami di kelas? Tidakkah mereka tahu ada hal lain yang lebih penting dari hanya sekedar nilai semata? Mungkin disinilah letak kegagalan sebuah proses belajar mengajar. Mereka gagal memahami hakikat dari belajar yang sesungguhnya. Saya gagal membantu mereka memahami tujuan belajar sesungguhnya (Walau seingat saya, saya selalu menekankan pentingnya proses dan bukan pencapaian nilai semata).
Tiga kejadian itu, berhasil membuat ingatan saya kembali ke masa 3 tahun lalu. Sebagai pengajar muda, saya belajar kembali teori-teori yang hampir saya lupakan. Itu bukan hal yang mudah pastinya. Namun saya sadar, yang paling sulit menjalani profesi itu, bukan pada materi / teori yang harus saya bawakan di kelas. Hal yang paling sulit sesungguhnya adalah menghadapi mahasiswa yang notabene adalah kaum remaja, dengan segala permasalahan di belakangnya. Ketangguhan dan keterampilan saya ditempa sedemikian rupa menghadapi mereka. Tempaan itu rasanya tidak mudah saya jalani, tetapi buah manisnya sudah saya petik dan saya rasakan sekarang. Saya belajar mengelola emosi, belajar sabar, belajar tenang, belajar bersikap dan berkata-kata dengan bijak. Dulu, semua itu saya pelajari ketika menghadapi kaum remaja tersebut. Sekarang, semua itu saya pelajari ketika berhadapan dengan banyak orang dengan beragam karakternya.

Terkait dengan tiga kasus di atas, ada satu hal yang pernah saya sampaikan setiap berada di kelas : “Percayalah nak, suatu hari nanti, entah ketika kalian sudah bekerja, atau kalian sudah semakin beranjak dewasa, nilai itu hanya akan menjadi deretan angka atau huruf, yang tidak akan terlalu berarti banyak buat kalian. Jadi… carilah hal yang lebih berarti atau berharga bagi hidup kalian kelak”.