Kamis, 19 September 2013

Tolong, Maaf, Terima Kasih



“Tolong, Maaf, Terima Kasih
adalah tiga hal yang selalu saya tekankan pada kedua anak saya”



Begitulah ungkapan artis cantik Ayu Diah Pasha ketika terlibat percakapan dengan Aleksander, pada acara Friends & the City, di salah satu televisi swasta. Aleksander, sang pembawa acara, merupakan sahabat yang sangat mengagumi kesantunan Ayu. Ayu menekankan bahwa sesuatu yang kita lakukan terhadap orang lain, akan dilakukan oleh orang lain juga terhadap kita. Ini yang disebut aksi reaksi. Di dalam mendidik anaknya, Ayu menekankan pentingnya tiga hal tersebut ketika berhadapan dengan orang lain. Ungkapan Tolong, Maaf, Terima Kasih, yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga sungguh dilakukan. Saya sangat setuju dengan prinsip tersebut.
Coba perhatikan : (1) Apa yang sering anak-anak ucapkan saat meminta anggota keluarga lain mengambilkan handuk untuk mandi, atau kaos kaki saat akan berangkat sekolah? Sebuah kalimat perintah dalam bentuk teriakan kah? Atau sebuah kalimat permintaan yang diawali “Ma, tolong… / Mbak, tolong….” ? ; (2) Apa yang sering anak-anak lakukan ketika mereka melakukan kesalahan? Berdiam diri dan bersikap tidak peduli kah? Atau meminta maaf dengan penuh penyesalan, sambil berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya kembali? ; (3) Apa yang sering anak-anak ucapkan saat mereka mendapat bantuan dari orang lain, atau saat seorang pramusaji di sebuah tempat makan mengantarkan sebuah makanan untuknya? Diam dan segera menyantap makanan kah? Atau tersenyum sambil mengucapkan “ Makasih ya…..”.
Rasanya mudah ya untuk menerapkan ketiga hal tersebut? Atau sangat mudah ya saat kita meminta orang lain (terutama anak-anak) untuk menerapkan ketiga hal tersebut? Namun, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menerapkannya terlebih dahulu pada diri kita sendiri?
Setiap ucapan yang keluar dari mulut anak, setiap perbuatan yang terlihat dari perilaku anak, merupakan gambaran bagaimana sesungguhnya pola asuh atau proses belajar yang terjadi di dalam keluarga. Tidak dapat dipungkiri, bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar. Setiap hal yang diperolehnya dalam keluarga, akan menentukan bagaimana seorang anak bereaksi dalam lingkungan. Perilaku dan tutur kata orangtua akan menjadi contoh bagi anak dalam berbicara dan bertingkah laku di lingkungan sosialnya.
Yang menjadi pertanyaan kita kemudian adalah, bagaimana cara mendidik anak untuk berperilaku sopan dan santun? Pertama, Mulailah dari kita sendiri. Mampukan diri kita untuk mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih pada waktu yang tepat. Seperti yang telah dipaparkan diatas, setiap gerak gerik dan tutur kata orangtua merupakan contoh bagi anak. Bagaimana mungkin orangtua mengharapkan anak melakukan hal-hal positif, jika yang dilihat dan didengar anak dari orangtuanya adalah hal negatif? ; Kedua, Mulailah dari hati. Orangtua pun perlu belajar bahwa mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih bukan hanya sekedar ungkapan yang keluar dari mulut saja, tetapi sebuah ungkapan yang penuh ketulusan keluar dari hati. Berikan pengertian kepada anak untuk melakukan hal tersebut dari hati mereka. Sebuah pengertian dan contoh akan memampukan anak untuk memiliki sikap yang baik. Mengapa harus dari hati? Karena jika tidak dari hati, maka kita sendiri atau anak, akan lelah dengan sikap sopan yang pura-pura tersebut.
Saya akan menutup tulisan ini dengan mengutip pendapat Johannes A Gaertner, bahwa “Mengucapkan terima kasih adalah sikap sopan dan santun ; menunjukkan rasa terima kasih adalah sikap lapang hati dan mulia”. Memang benar pendapat Ayu Diah Pasha diatas, bahwa apapun yang kita berikan atau lakukan kepada sesama, entah bagaimana caranya dan bagaimana bentuknya, akan kembali kepada kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat.




-12 Maret 2008 -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar